HeadlineLingga

Cinta Tradisi, Julang Negeri: Kapolsek Daik Hadiri Ritual Mandi Safar di Lingga

×

Cinta Tradisi, Julang Negeri: Kapolsek Daik Hadiri Ritual Mandi Safar di Lingga

Sebarkan artikel ini
Dalam semangat melestarikan budaya warisan leluhur, Kapolsek Daik Lingga, AKP Mayson Syafri, turut ambil bagian dalam ritual adat Mandi Safar yang digelar di Desa Persiapan Cempaka, Kabupaten Lingga, Rabu (20/8/2025). F-Istimewa

LINGGA, deltakepri.co.id – Dalam semangat melestarikan budaya warisan leluhur, Kapolsek Daik Lingga, AKP Mayson Syafri, turut ambil bagian dalam ritual adat Mandi Safar yang digelar di Desa Persiapan Cempaka, Kabupaten Lingga, Rabu (20/8/2025).

Tradisi masyarakat Melayu ini rutin dilaksanakan setiap Rabu terakhir di bulan Safar, dan tahun ini mengusung tema “Cinta Tradisi, Julang Negeri.” Mandi Safar sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Ritual Penuh Makna

Mandi Safar sarat makna religius dan sosial. Tradisi ini dipercaya sebagai sarana menolak bala, menghindarkan musibah, sekaligus menjadi doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan hidup.

Baca Juga :  Roby Ajukan RTRW Bintan 2026-2046, Proyek Jembatan Batam-Bintan Masuk Prioritas

Prosesi mandi massal di tepi pantai atau sungai juga melambangkan pensucian diri serta memperkuat kebersamaan masyarakat.

Kapolres Lingga, AKBP Pahala Martua Nababan, melalui Kapolsek Daik Lingga, AKP Mayson Syafri, menegaskan bahwa kehadiran Polri dalam kegiatan budaya merupakan bentuk komitmen memperkuat sinergi dengan masyarakat serta mendukung pelestarian nilai-nilai luhur.

“Kegiatan ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum untuk mempererat hubungan sosial, spiritual, dan budaya. Kepolisian selalu hadir mendukung kegiatan positif masyarakat, apalagi yang menyangkut pelestarian tradisi warisan leluhur seperti ini,” ujar AKP Mayson.

Baca Juga :  Maret ini, 49 Pejabat Pemkab Lingga ikut Diklatpim

Kehadiran Lintas Elemen

Ritual Mandi Safar di Desa Persiapan Cempaka diawali dengan doa bersama, dilanjutkan tausiah keagamaan, dan kemudian prosesi mandi massal.

Acara ini turut dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Lingga, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat dari berbagai kalangan.

Kehadiran lintas elemen masyarakat menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi, sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi adalah bagian dari kekayaan bangsa yang tak ternilai.

Penulis: Indra
Editor: Tahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *