TANJUNGPINANG, deltakepri.co.id — Penanganan HIV di Kota Tanjungpinang membutuhkan dukungan lintas sektor dan keterlibatan masyarakat.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam workshop peningkatan kesadaran dan penggalangan sumber daya domestik untuk menjaga keberlanjutan program HIV.
Lokakarya tersebut digelar Komunitas Peduli AIDS Kepri (Kompak) bersama Yayasan Spiritia di Hotel Nite & Day, Tanjungpinang, Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan dibuka Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza.
Ariza mengatakan penanggulangan HIV tidak cukup dilakukan melalui layanan medis. Menurut dia, upaya tersebut membutuhkan edukasi masyarakat, kerja sama berbagai sektor, serta sistem penanganan yang berkelanjutan.
“HIV merupakan ancaman besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda di Kota Tanjungpinang. Pemerintah akan memberikan perhatian khusus terhadap hasil diskusi dan kesepakatan hari ini untuk menangani secara bersama,” ujar Ariza.
Ia juga menyoroti tantangan pendanaan program kesehatan di tengah efisiensi anggaran pemerintah. Kondisi tersebut, kata dia, dapat mempengaruhi keberlanjutan berbagai program kesehatan, termasuk penanggulangan HIV, tuberkulosis, dan malaria.
Karena itu, Ariza mendorong adanya transisi sumber pendanaan yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan layanan bagi kelompok rentan tetap berjalan.
“Masih terdapat tantangan besar untuk mencapai ending AIDS 2030. Dibutuhkan transisi pendanaan, baik yang dikelola pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun pihak swasta, guna menjaga kesinambungan program,” katanya.
Ketua Komunitas Peduli AIDS Kepri, Harmoni, mengatakan program penanggulangan AIDS di Kepulauan Riau telah berjalan sejak 2007. Menurut dia, edukasi menjadi bagian penting dalam pencegahan HIV.
Ia menyebut pendekatan penanganan HIV tidak hanya berfokus pada pengobatan. Ada tiga hal yang perlu diperkuat, yakni pencegahan, edukasi, dan dukungan kepada orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.
“Penanganan HIV itu bukan cuma soal bagaimana cara mengobati, tapi lebih besar di tiga pilar yaitu cegah, edukasi dan dukung,” ujar Harmoni.
Harmoni juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada ODHA karena kesalahpahaman mengenai cara penularan HIV.
Menurut dia, HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, makan bersama, menggunakan toilet umum, maupun melalui gigitan nyamuk.
Ia mengatakan penularan HIV berkaitan dengan paparan tertentu, antara lain darah yang terkontaminasi, hubungan seksual tanpa pengaman, penularan dari ibu kepada bayi, serta penggunaan jarum suntik secara bersama.
“Banyak orang takut kepada ODHA karena salah paham. Mari kita pahami dan berikan informasi yang benar kepada masyarakat,” katanya.
Workshop tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas, dan pihak swasta dalam menjaga keberlanjutan program HIV di Tanjungpinang.
Selain memperluas edukasi, kegiatan itu diarahkan untuk mendukung target global mengakhiri AIDS pada 2030 melalui pencegahan, akses layanan, pengurangan stigma, dan dukungan terhadap kelompok yang membutuhkan.
Penulis: Indra
Editor: Red












