BATAM, deltakepri.co.id — Pengelolaan air bersih dan strategi investasi yang diterapkan Badan Pengusahaan (BP) Batam menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian mendatangi BP Batam untuk mempelajari langsung model tata kelola infrastruktur air dan pengembangan kawasan industri yang dinilai berhasil menopang pertumbuhan ekonomi Batam.
Pertemuan berlangsung di Gedung Annex BP Batam, Rabu (21/1/2026), di sela agenda Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).
Kepala BP Batam Amsakar Achmad memaparkan perjalanan Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB), termasuk sinergi kebijakan antara BP Batam dan Pemerintah Kota Batam.
Amsakar menyebutkan, capaian investasi Batam pada 2025 melampaui target indikator kinerja utama.
Realisasi investasi tercatat mencapai Rp68,9 triliun atau sekitar 115 persen dari target yang ditetapkan Rp60 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut turut berdampak pada penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.
“Sinergi kebijakan dan kepastian layanan dasar menjadi kunci menjaga iklim investasi tetap kondusif,” kata Amsakar dalam pertemuan itu.
Salah satu topik utama yang dibahas adalah pengelolaan air bersih. Amsakar menjelaskan, BP Batam berperan sebagai regulator sekaligus pelaksana melalui kemitraan strategis dengan pihak swasta.
Skema tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan infrastruktur air bagi sekitar 1,3 juta penduduk Batam, sekaligus meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
BP Batam, kata Amsakar, menargetkan wilayah dengan tingkat kekurangan pasokan air atau stress area dapat teratasi melalui program strategis pada 2026.
Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian mengapresiasi capaian Batam, terutama dalam pengelolaan air bersih dan pengembangan kawasan industri.
Ia menilai Batam memiliki keunggulan komparatif yang dapat dijadikan rujukan bagi pembangunan di Batu Bara.
“Kami melihat perubahan Batam yang cukup signifikan. Kami ingin berdiskusi dan belajar, terutama terkait pengelolaan air, kawasan industri, dan pelabuhan,” ujar Baharuddin.
Selain air bersih, diskusi juga menyinggung potensi konektivitas logistik antara kedua daerah.
Batu Bara berharap adanya jalur distribusi barang dan bahan pokok yang terhubung langsung dengan pelabuhan internasional di Batam, mengingat peran Batam sebagai simpul logistik regional.
Batam saat ini memiliki lima pelabuhan penumpang dan tiga pelabuhan kargo yang menopang arus barang dan investasi di kawasan KPBPB.
Infrastruktur tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing kawasan industri.
Pertemuan ditutup dengan komitmen kedua pihak untuk menjajaki peluang kerja sama lanjutan, khususnya terkait skema pelayanan air bersih dan pengelolaan kawasan industri yang berorientasi pada peningkatan investasi. (*)












