BatamHeadlineKepri

Misni: Logistik Antar Pulau Jadi Tantangan Pengendalian Inflasi di Kepri

×

Misni: Logistik Antar Pulau Jadi Tantangan Pengendalian Inflasi di Kepri

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Misni berdialog dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Rony Widijarto Purubaskoro dalam kegiatan High Level Meeting TPID dan TP2DD Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2026 yang digelar di Aula Bank Indonesia Batam Center, Kamis (7/5/2026).F-Diskominfo Kepri

BATAM, deltakepri.co.id – Misni menyebut karakteristik wilayah kepulauan menjadi tantangan utama dalam pengendalian inflasi di Kepulauan Riau.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Kepri di Aula Bank Indonesia Batam Center, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut Misni, wilayah Kepri yang didominasi lautan hingga 98 persen serta terdiri dari ribuan pulau menghadirkan tantangan besar, terutama pada aspek logistik dan distribusi antarwilayah.

“Karakteristik geografis maritim ini menghadirkan tantangan besar, khususnya terkait efisiensi logistik, rantai pasok antar pulau yang rentan terhadap anomali cuaca, disparitas harga, hingga keterbatasan produk pertanian lokal,” kata Misni.

Baca Juga :  Diguyur Hujan, Wali Kota Batam Tetap Gotong Royong Bersama Warga di Gardan Raya

Berdasarkan data April 2026, inflasi tahunan Kepri tercatat sebesar 3,06 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 2,42 persen. Sementara inflasi bulanan mencapai 0,43 persen, di atas angka nasional sebesar 0,13 persen.

Misni menjelaskan, tingginya mobilitas masyarakat serta tantangan distribusi di wilayah kepulauan menjadi faktor utama penyebab inflasi.

Kelompok transportasi menyumbang inflasi terbesar sebesar 2,44 persen, disusul sektor penyediaan makanan, minuman, dan restoran sebesar 1,80 persen.

Adapun komoditas yang memicu kenaikan harga antara lain tarif angkutan udara dan laut, nasi dengan lauk pauk, telepon seluler, bensin, serta ikan layang.

Baca Juga :  Bintan Cari Duta Pemuda Anti Narkoba, Libatkan Puluhan Pelajar dan Pemuda

Sementara komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan mengalami penurunan harga.

Secara spasial, Batam mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,26 persen, sedangkan Tanjungpinang berada di angka 3,25 persen. Di sisi lain, Kabupaten Karimun mengalami deflasi bulanan sebesar minus 0,25 persen.

Meski demikian, Misni mengatakan perekonomian Kepri tetap menunjukkan kinerja positif.

Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 7,04 persen secara tahunan, tertinggi di Sumatera dan peringkat kelima nasional.

Selain itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Kepri pada Januari hingga Maret 2026 tercatat mencapai 1,14 juta perjalanan, tertinggi sejak 2019.

Baca Juga :  Lapas Batam Diminta Antisipasi Overstaying, Deputi Kemenko Kumham Imipas Tekankan Kesiapan KUHP Baru

Kondisi tersebut turut memengaruhi kenaikan tarif transportasi udara.

Di akhir sambutannya, Misni berharap forum TPID dan TP2DD dapat memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas harga dan mempercepat digitalisasi daerah sesuai karakteristik wilayah kepulauan.

Penulis: Deni
Editor: Indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *