Bintan

Krisis Air Bersih di Bintan, Pemerintah Siapkan Distribusi dan Opsi Modifikasi Cuaca

×

Krisis Air Bersih di Bintan, Pemerintah Siapkan Distribusi dan Opsi Modifikasi Cuaca

Sebarkan artikel ini
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan mencatat sedikitnya 24.479 kepala keluarga terdampak kesulitan air bersih/f-indra-dk

BINTAN, deltakepri.co.id — Pemerintah Kabupaten Bintan mengambil langkah cepat menyusul kondisi kekeringan yang meluas dan berdampak pada pasokan air bersih di wilayah tersebut.

Bupati Bintan, Roby Kurniawan, menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bergotong royong menyalurkan air bersih kepada warga terdampak.

Instruksi itu disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan lintas sektoral pada Rabu, 25 Maret 2026.

“Saya minta hari ini langsung dibagi OPD yang mana saja bertanggung jawab di kecamatan mana. Disusun skema penyalurannya, termasuk pembaruan data warga terdampak,” kata Roby.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Pemkab Bintan Usulkan 1.473 Formasi CASN 2024 ke BKN

Ia juga meminta keterlibatan aparat di tingkat lapangan, termasuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas, untuk mendukung distribusi air bersih.

Kekeringan yang melanda Bintan disebut dipicu oleh musim kemarau panjang serta minimnya curah hujan sejak awal tahun.

Kondisi ini menyebabkan volume air di sejumlah waduk sumber baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mengalami penurunan drastis, bahkan satu di antaranya dilaporkan kering total.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan mencatat sedikitnya 24.479 kepala keluarga terdampak kesulitan air bersih.

Dampak tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Mantang dan Tambelan yang masih relatif terkendali.

Baca Juga :  Jaga Stamina dan Niatkan Ibadah, Pesan Bupati Bintan ke Calon Haji

Berdasarkan paparan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, kekeringan meteorologis di Pulau Bintan merupakan fenomena berulang yang tercatat terjadi pada 1997, 2010, 2014, 2015, 2019, 2020, dan kembali terjadi pada 2026.

Kondisi tahun ini bahkan disebut mendekati tingkat keparahan pada 1997 dan 2015.

Secara geografis, curah hujan di Bintan memang cenderung rendah pada Februari hingga Maret dan biasanya kembali normal pada April hingga Mei.

Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih ekstrem sehingga berdampak pada ketersediaan air baku dan air tanah warga.

Baca Juga :  Wabup Bintan tinjau Korban Angin Puting Beliung

Sebagai langkah jangka pendek, pemerintah daerah akan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia, termasuk dukungan dari pihak swasta, untuk mendistribusikan air bersih.

“Kita masih punya sumber air lain selain PDAM. Manfaatkan semua potensi yang ada,” ujar Roby.

Selain distribusi air, pemerintah juga mempertimbangkan opsi modifikasi cuaca sebagai upaya tambahan.

Di sisi lain, Roby juga mengimbau masyarakat untuk melaksanakan salat istisqa sebagai ikhtiar memohon hujan.

“Kita lengkapi ikhtiar dengan doa, semoga kondisi segera kembali normal,” kata dia.

Penulis: Indra

Editor: Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *