BatamHeadline

LAM Batam Dorong Penamaan Jalan Bernuansa Melayu

×

LAM Batam Dorong Penamaan Jalan Bernuansa Melayu

Sebarkan artikel ini
Ketua LAM Batam, Raja Haji Muhammad Amin.F-Istimewa

BATAM, deltakepri.co id — Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam menegaskan komitmennya untuk memperkuat identitas budaya Melayu melalui penataan ulang nama jalan dan ruang publik di wilayah tersebut.

Ketua LAM Batam, Raja Haji Muhammad Amin, mengatakan penamaan ruang publik seharusnya mencerminkan sejarah dan nilai budaya Melayu.

“Penamaan ini bukan sekadar soal nama, tetapi menyangkut marwah dan identitas daerah,” kata Raja Amin, Rabu, 8 April 2026.

Menurut dia, masih terdapat sejumlah nama jalan dan simpang di Batam yang dinilai tidak memiliki keterkaitan dengan sejarah maupun budaya Melayu.

Baca Juga :  Pedagang Anjung Cahaya Keluhkan Sepi Pengunjung

Salah satunya adalah penamaan simpang yang dikenal masyarakat sebagai Simpang Frengky.

Ia menilai, nama tersebut tidak merepresentasikan tokoh atau nilai historis lokal.

LAM, kata dia, mendorong penggunaan nama tokoh Melayu yang memiliki kontribusi nyata dalam sejarah, seperti Raja Ali Kelana.

Selain itu, LAM juga menyoroti adanya penamaan atau penyebutan lokasi di masyarakat yang dinilai tidak sesuai dengan norma budaya.

Menurut Raja Amin, ruang publik seharusnya mencerminkan nilai kesopanan dan kearifan lokal.

Upaya penataan nama ini, lanjut dia, tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi juga akan diintegrasikan dengan sistem digital, termasuk platform pemetaan daring, agar dapat dikenal luas oleh masyarakat.

Baca Juga :  Beli Solar Subsidi di Tanjungpinang Gunakan Fuel Card Bukopin

Secara kelembagaan, kebijakan tersebut telah dituangkan dalam rekomendasi resmi LAM Batam sejak Oktober 2025.

Salah satu poinnya menegaskan bahwa penamaan jalan dan fasilitas publik perlu melibatkan LAM serta diarahkan menggunakan nama bernuansa Melayu.

Langkah ini, menurut LAM, bertujuan menjaga keseimbangan antara pembangunan kota yang pesat dengan pelestarian identitas budaya.

Raja Amin menegaskan, sebagai kota industri dan perdagangan internasional, Batam tetap harus mempertahankan jati diri sebagai bagian dari peradaban Melayu.

“Pembangunan boleh maju, tetapi identitas budaya tidak boleh hilang,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *