BINTAN, deltakepri.co.id — Seorang pekerja PT Shandong Geologi bernama Malik, 24 tahun, ditemukan meninggal dunia di Perairan Pulau Poto, Desa Kelong, Kecamatan Bintan Pesisir, Kamis (22/1/2026).
Korban ditemukan setelah tim gabungan melakukan pencarian selama empat hari.
Pelaksana Harian Kapolsek Bintan Timur AKP Syamsuriya mengatakan, jenazah korban ditemukan sekitar pukul 08.40 WIB dengan jarak sekitar 20 meter dari lokasi awal kejadian pengeboran laut.
“Posisi jenazah mengapung telentang, mengenakan kaos hitam dan celana pendek merah,” kata Syamsuriya.
Berdasarkan data kepolisian, titik penemuan berada di koordinat 0,8937123 lintang utara dan 104,6724306 bujur timur.
Setelah ditemukan, jenazah dievakuasi ke RSUD Bintan untuk dilakukan visum et repertum dengan disaksikan pihak keluarga.
Selanjutnya, jenazah dibawa ke rumah duka di Perumnas Sri Bayintan, Kelurahan Kijang Kota, dan direncanakan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Kilometer 25, Kecamatan Bintan Timur.
Operasi pencarian melibatkan tim gabungan dari Satpolairud Polres Bintan, Polsek Bintan Timur, Koramil 02/Bintan Timur, Pos AL Kijang, Basarnas Tanjungpinang, dan BPBD Kabupaten Bintan.
Peristiwa ini berawal pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Dua karyawan PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) yang merupakan subkontraktor PT Shandong Geologi Eksplorasi dilaporkan tenggelam saat melakukan aktivitas pengeboran laut di perairan Pulau Poto.
Kedua korban diketahui berangkat dari Pelabuhan PT Bintan Alumina Indonesia menggunakan kapal menuju ponton pengeboran yang berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.
Saat proses kerja berlangsung, arus laut tiba-tiba menguat dan menyeret keduanya.
Kanit Reserse Kriminal Polsek Bintan Timur Ipda Daeng Salamun sebelumnya membenarkan insiden tersebut.
Ia menyebut satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian.
“Benar, ada dua korban terseret arus. Satu korban sudah ditemukan dan satu lainnya masih belum ditemukan,” ujar Daeng.
Komandan Koramil 02 Bintan Timur Kapten Infanteri Maswendara mengatakan insiden tersebut diduga merupakan kecelakaan kerja yang dipengaruhi faktor alam.
Selain itu, aparat masih mendalami kemungkinan kelalaian dalam penerapan prosedur keselamatan kerja.
“Dugaan sementara karena faktor alam, prosedur keselamatan, dan keterbatasan sarana keselamatan. Pendalaman masih dilakukan,” kata Maswendara.
Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan belum memberikan keterangan resmi terkait insiden kecelakaan kerja tersebut.
Penulis: Indra
Editor: Red












