Beranda Opini Muda Bersih Religius

Muda Bersih Religius

369
0

DELTAKEPRI.CO.ID, LINGGA – Tidak mudah menjadi seorang Muhammad Nizar, Wakil Bupati Lingga saat ini. Ia selalu pandai menempatkan diri dalam bayang-bayang besar seorang Alias Wello, Bupati Kabupaten Lingga itu sendiri. Siapa yang tak kenal Alias Wello? Tokoh yang cukup disegani dalam kancah perpolitikan Lingga hingga Kepulauan Riau. Seorang politikus lokal yang sudah malang melintang mencicip asam garam kehidupan politik.

Dalam konteks politik lokal, karir Alias Wello sangat komplit. Sampai sejauh ini hampir tak ada yang menandingi komplisitas tersebut. Karirnya mulai dari ketua partai tingkat daerah, ketua DPRD, sampai BupatI Lingga hari ini. Ia bukan sekadar politikus. Tapi juga pengasas, penggagas, pemikir, sekaligus pemimpi, bagi Kabupaten Lingga yang bergerak membaik hari ini.

Gagasannya, pikirannya, sekaligus mimpi-mimpi besarnya terhadap arah pembangunan Lingga, tentu tak semua bisa terwujud, tak semua bisa tercapai. Tapi ketidaktercapaian itu, janganlah membuat hati jadi pendendam dan berlaku tidak adil dalam menilai kepemimpinannya. Sedikit-banyak, dalam lima tahun kepemimpinan Alias Wello–M Nizar, Kabupaten Lingga bergerak ke arah yang lebih baik, meninggalkan warisan yang selalu dikenang.

Baca Juga :   Pemberantasan korupsi di Indonesia sedang diujung tanduk

Diantara warisan itu ialah sosok Nizar. Ya, Alias Wello memberi contoh yang baik kepada semua tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan, bahwa sudah saatnya dalam konteks politik hari ini, orang-orang muda diberi kesempatan untuk melanjutkan proses kepemimpinan, yang dalam hal ini ada pada diri Nizar.

Selama ini, sosok Nizar dikenal tidak silau dengan jabatan yang diembannya. Jabatan baginya hanyalah sebuah titipan dan amanah. Titipan dan amanah dari Yang Maha Kuasa, sekaligus titipan dan amanah dari Alias Wello yang pada saat itu mengajaknya berduet untuk mendampingi dan membantunya dalam kerja-kerja sebagai seorang Bupati.

Sering kali didapati banyak problematika internal pasangan kepala daerah dimana antara kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak akur dalam berbagai hal. Dan dalam derajat tertentu ada yang sampai adu mulut dan berkelahi. Bukan rahasia awam lagi semua bisa disearching melalui internet.

Baca Juga :   Pelabuhan VS Keselamatan Pelayaran

Namun problematika ini tidak berlaku bagi Nizar. Ia selalu seirama dengan pasangannya, Alias Wello. Pandai menempatkan diri. Ia pun sadar, jabatan Wakil Bupati yang diembannya hanyalah sarana untuk sebesar-sebesarnya mencapai visi-misi Bupati. Sehingga tidak ada yang namanya visi-misi Wakil Bupati, apalagi visi-misi pribadi seorang Nizar.

Ada beberapa hal yang dapat dinarasikan dalam menggambarkan sosok M. Nizar.

Pertama, Muda. Jargon ini sudah tentu melekat dalam dirinya. Ia bahkan belum mencecah “kepala empat” dari sisi usia. Salah satu keunggulan pemimpin usia muda adalah kecepatan dan kesehatan. Orang muda identik dengan pemikiran yang lebih efisien, tidak bertele-tele dan jarang basa-basi.

Kedua, bersih. Nizar tidak pernah neko-neko dalam hidup. Hidupnya sederhana, mengalir begitu saja. Mungkin karena pengalamannya yang besar di wilayah pulau kecil di Kebupaten Lingga (Pulau Kelombok), yang selalu identik dengan kehidupan nelayan yang jauh dari kata “kemewahan”. Sehingga kondisi tersebut mengantarkannya untuk selalu sadar akan arti kehidupan masyarakat arus bawah.

Baca Juga :   Puluhan Petugas Kesehatan Rumah Sakit Encik Maryam Dikarantina

Selama ini, hampir tidak pernah terdengar suara sumbang, berita-berita negatif tentang sosok dia di media massa. Sosok yang selalu tetap berada dalam jalur, “on the track”, menjaga diri agar tetap bersih.

Ketiga, religius. Kata orang, calon pemimpin yang baik itu adalah calon pemimpin yang hatinya condong dan selalu terpaut dengan Masjid. Ini ada pada dirinya. Dia selalu menyempatkan diri untuk berkeliling dalam setiap momen acara-acara keagamaan selama menjabat sebagai Wakil Bupati.

Program “Ahad Taqwa” menjadi salah satu agenda rutinitasnya untuk selalu memakmurkan Masjid di ceruk-ceruk kampung, di ujung-ujung wilayah pesisir yang terpencil, memberikan arahan-arahan kebaikan melalui pesan dakwah. Narasi akhir yang ingin penulis sampaikan bahwa Nizar adalah Nizar, sosok Muda Bersih, dan juga Religius.