Temuan BPK Hingga Datangnya Tudingan Bank BUMN Digadai ke China?

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 108 kali.


DELTAKEPRI.CO.ID – Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan direktur utama Bank BUMN, salah satu anggota DPR komisi XI Eva Sundari menanyakan terkait isu bank BUMN digadaikan ke China.

Hal ini karena bank BUMN mendapatkan pinjaman dari China Development Bank (CDB) beberapa waktu lalu.

Bagaimana sebenarnya isu tersebut berkembang?

Eva Sundari menjelaskan memang isu ini sebenarnya sudah beberapa waktu yang lalu, namun masih ramai di media sosial bahwa kondisi keuangan pemerintah Indonesia sudah rapuh.

“Ada dua hal, pertama mereka menyebut jika bank BUMN sudah tergadaikan karena utang dari China itu luar biasa, sehingga disebut ada risiko akan terjadi seperti di Srilanka atau Afrika, karena tak bisa bayar utang lalu disita,” kata Eva saat dihubungi¬†detikFinance, Jumat (5/7/2019).

Dia menyampaikan, selain itu bank BUMN juga disebut lemah karena dipaksa membiayai program pembangunan infrastruktur pemerintah.

“Saya memang kemarin sengaja bertanya seperti itu kepada para dirut, supaya mereka yang membuat pernyataan langsung bagaimana kondisi sebenarnya, dan memang utangnya sangat kecil kan tidak ada yang digadaikan dalam hal ini,” ujar Eva.

Apalagi skema business to business yang digunakan untuk pembiayaan tersebut, menurut Eva tak ada risiko Bank BUMN digadaikan ke China.

Menurut Eva jawaban para dirut bank Mandiri, BNI dan BRI seharusnya sudah bisa menjawab tudingan-tudingan negatif terkait hoax Bank BUMN yang digadaikan ke China.

“Apalagi pak Dirut Mandiri menyampaikan pembiayaan itu sangat kecil jika dikomparasikan dengan total pembiayaan keseluruhan, lalu aset bank BUMN kita juga besar tidak mungkin digadaikan ke China,” jelas dia.

Menanggapi pertanyaan tersebut Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan beberapa waktu lalu Bank Mandiri sudah dipanggil oleh komisi VI terkait pinjaman dari CDB.

“Kita sudah dipanggil, soal pinjaman US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun, skemanya business to business,” kata Tiko.

Dia mengungkapkan, pinjaman luar negeri bukan hanya dari China tapi juga dari JP Morgan, Deutche Bank. Ini untuk pembiayaan valuta asing yang proyeknya juga menggunakan valas.

“US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun itu biasa pinjamannya. Aset kami Rp 1.200 triliun itu jauh sekali apalagi dengan skema B2B untuk proyek dalam bentuk valas. Ini normal dan tidak perlu dikhawatirkan,” kata dia.

Tiko menjelaskan memang sebelumnya di media sosial ramai jika pinjaman dari CDB ini untuk pembiayaan kereta cepat. “Ramai di media sosial pinjaman CDB ini untuk kereta cepat, padahal pembiayaan kereta cepat itu langsung dari CDB secara b to b, tidak ada lewat Himbara,” kata dia.

sumber : detik.com




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *