Polres Bintan tangkap 12 Ton kandungan Zat Flaka

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 703 kali.


Delta Kepri – Kapolres Bintan AKBP Febrianto Guntur Sunoto menunjukan tangkapan sebanyak 12 Ton Serbuk Flakka Zombie asal India yang melewati jalur Batam – Bintan dan berhasil diamankan oleh Polsek Bintan Timur di Mapolres Bintan, hari Jumat (15/9).

Dari hasil tes Laboraturium di Kota Medan, serbuk tersebut mengandung tiga zat diantaranya, Dekstrometorfan, Triheksifenidil, Carisoprodol (kandungan zat pada Flaka).

Serbuk ini juga merupakan bagian dari bahan obat Paracetamol, Caffeine dan Carisoprodol (PCC). Namun bila dikonsumsi secara berlebihan akan menimbulkan bahaya efek gangguan kepribadian dan berperilaku seperti zombie.

Dari hasil penyelidikan, serbuk bahan baku pembuatan PCC diimpor dari India. Yang Jalur pengirimannya melalui Singapura masuk lewat Batam dan selanjutnya dari Batam dikirim ke Jakarta melewati jalur laut dengan menumpangi Kapal Pelni di Pelabuhan Sri Bayintan, Kijang.

Dari Kota Batam ke Bintan melalui pelabuhan ilegal, rencananya bahan tersebut diolah kembali di Jakarta, dan dipasarkan menjadi obat.

Bahan baku ini diketahui sudah dilarang oleh Pemerintah Indonesia untuk diperjualbelikan secara tunggal. Pelarangan secara resmi diberlakukan sejak tahun 2013 melalui keputusan BPOM RI.

Sementara itu, tersangka yang berhasil diamankan berjumlah enam orang diiantaranya, MR yang merupakan peracik atau pembuat obat (apoteker) sekaligus pemilik barang, FS yang mencarikan transportir di Kepri ke Jakarta dan Ls. Bn. Tn yang bertugas mencari ekspedisi di Kota Batam untuk menyelundupkan 12 ton bahan obat-obatan yang dikemas kedalam 480 tong lalu diangkut oleh 3 truk, BP 8726 BU warna kuning, BP 8810 TY warna kuning dan truk BP 9430 DY warna merah.

Keenam tersangka saat ini telah ditahan di Mapolres Bintan guna proses penyidikan lebih lanjut. Mereka dijerat Pasal 5 tahun 1997 tentang psikotropika dan Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2000 Pasal 196 dan 197 dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun atau denda Rp 1,5 miliar. (**)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *