Panas 65 Derajat Celcius Akan Melanda Arab Saudi Saat Ramadan?

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 645 kali.


Riyadh – Suhu udara selama Ramadan mendatang diperkirakan bisa mencapai 65 derajat Celcius di sejumlah area di Arab Saudi.

Ahli klimatologi, Abdul Rahman Mohammed Al-Ghamdi menyebutkan, suhu udara di lokasi yang teduh bisa mencapai 50 derajat Celcius. Sementara, di titik yang terpapar langsung sinar matahari langsung, panasnya bisa mencapai 65 derajat Celcius.

“Musim panas akan memasuki Belahan Bumi Utara pada 21 Juni 2015, kala itu Matahari akan tegak lurus di atas gugusan bintang Cancer, dan akan meningkatkan panas di sejumlah area di Saudi,” kata dia seperti Liputan6.com kutip dari Al Arabiya, Selasa (2/6/2015).

Al-Ghamdi menambahkan, suhu udara diperparah oleh kondisi di India, yang saat ini masih dilanda gelombang panas.

Panas ekstrem di sana merenggut banyak nyawa, terutama di kalangan orang lanjut usia dan kaum miskin yang tak punya tempat berteduh. Jumlahnya bahkan mendekati 1.500 orang. Di beberapa tempat di India, suhu udara bisa sampai 48 derajat Celsius.

Al-Ghamdi mengatakan, apa yang terjadi di Negeri Hindustan akan meningkatkan panas selama Ramadan tahun ini.

Faktor lain, tambah dia, juga memperparah panas, termasuk emisi karbon dari pabrik-pabrik dan asap knalpot kendaraan. “Selain terjadinya gempa bumi dan kebakaran di belahan Bumi lainnya.”

Meski demikian, klaimnya dianggap ambisius. Diduga melebih-lebihkan. Sebab, temperatur tertinggi yang resmi tercatat adalah 56,7 derajat Celcius di Death Valley, California, Amerika Serikat, pada 1913.

Selain itu fenomena panas yang masuk catatan rekor terjadi di Timbuktu, Mali, di mana rata-rata temperatur udara yang tercatat di bulan Mei 2012 adalah 108 Fahrenheit atau 42,2 Celcius. Bahkan pernah tercatat suhu udara mencapai 130 Fahrenheit atau 54,4 derajat Celcius — yang menempati ranking 5 temperatur tertinggi sepanjang masa.

Suhu tertinggi yang pernah tercatat di muka Bumi terjadi pada 1922, saat termometer di El Azizia, Libya menunjukkan angka 136 Fahrenheit atau 57,7 derajat Celcius, meski ada yang mengatakan, pengukuran itu salah. Jika benar itu keliru maka rekor tertinggi yang pernah tercatat adalah di Death Valley, California, sembilan tahun sebelumnya.

Tak hanya itu. Satelit Badan Antariksa AS (NASA) mendeteksi energi inframerah yang dipancarkan dalam tujuh tahun periode, dari 2003 hingga 2009. Dari catatan itu, Gurun Lut di Iran adalah tempat paling panas di Bumi. Mencapai 159 derajat Fahrenheit atau 70,5 Celcius pada tahun 2005.

Diikuti sebuah titik di Queensland yang mencapai 156 Fahrenheit atau 68.8 derajat Celcius pada 2003, lalu Turpan Basin, China yakni 152 derajat Fahrenheit atau 66,6 derajat Celcius.net




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *