MIRIS! Kabarnya Gelper Akan Bersarang di Kota Batam

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 997 kali.


Delta Kepri – Miris bila mendengar kabar Kota Batam akan menjadi sarang Gelanggang Permainan (Gelper), yang diduga termasuk pada unsur perjudian. Dan lebih mirisnya lagi, bila hal itu benar-benar terjadi.  Dan Kota Batam-pun akan menjadi barometer Kota Perjudian se-Indonesia dimasa depan.

Namun cukup aneh dan unik memang negri ini. Masih saja ditemukan banyak alasan pembelaan yang dikemukakan oleh sebagian para pendukung untuk diperbolehkannya permainan ketangkasan tersebut beroperasi di Kota Batam.

Dan beruntungnya, sejauh ini masyarakat Kota Batam cukup banyak yang masih kontra, tentang kabar diberikannya izin Gelper di Kota Batam. Hal ini-pun terbukti ketika deltakepri.co.id melihat beberapa komentar- komentar disalah satu group akun facebook. Dimana, dari berbagai kalangan berkomentar mengeluarkan pandangan yang cukup beragam dan tendensius, dengan adanya pengaktifan kembali izin operasi Gelper tersebut.

Mendengar kabar dugaan perjudian Gelper akan dibuka kembali secara resmi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Salah satu ulama kondang ternama di Kepri juga ikut angkat bicara. Ia mengungkapkan, izin Gelper yang diduga sarat dengan kepentingan perjudian, semestinya layak dikaji kembali oleh Pemko Batam. Pasalnya, Hal yang berbau dengan melanggar kaidah-kaidah Islam. Nantinya dapat berdampak tidak baik pada masyarakat luas. Sebab, Pemko Batam juga harus memiliki sikap jeli dengan keberadaan Gelper tersebut. Apakah berfaedah bagi masyarakat banyak?.. Atau malah semakin menjerumuskan masyarakat kepada perbuatan-perbuatan yang tercela dan melanggar perintah agama?..

“Pemerintah harus jeli dan mesti memiliki kajian yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Sebab, bila Gelper tidak berfaedah bagi masyarakat Kota Batam dan malah menjadikan masyarakat sebagai pelanggar hukum islam. Artinya, Pemerintah mencoba menjerumuskan masyarakat kepada perbuatan yang melanggar perintah agama”, Jelasnya, tanpa mengizinkan namanya tertera dimedia ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Heri warga Batam Centre. Ia mengaku, telah cukup banyak melihat perjudian-perjudian yang sifatnya sebagai kedok permainan anak-anak. Seperti halnya Gelper yang selalu beroperasi pada kawasan perbelanjaan atau tempat yang kerap dikunjungi masyarakat banyak. Cukup disayangkan memang, hal ini dapat terjadi dengan bebas tanpa ada tindakan dari Pemerintah maupun Aparat Negara di Kota Batam. Malah terdengar isu, sebagian dari Gelper Kota Batam, diback up oleh Oknum-oknum Aparat.

“Cukup miris memang mas, begitu banyak permainan yang mengorbankan nama anak-anak. Padahal, kenyataannya ada permainan unsur judi didalamnya. Seharusnya, Pemerintah dan aparat melakukan tindakan, bukan malah membiarkan perjudian tersebut berlanjut dengan bebas. Apalagi kita sering mendengar, beberapa oknum aparat malah menjadi back up mas. Tapi ya terserah Pemerintahlah mas, mau dibawa kemana Kota Batam dan Indonesia ini?..,” Cetus Heri, disalah satu kedai kopi Nagoya Hill, dini hari tadi.

Disisi lain, deltakepri.co.id juga terkejut mendapati salah seorang bernama Izal Warga Batam yang mengaku sebagai pendukung kegiatan perjudian agar segera dibuka secara resmi oleh Pemko Batam.

Menurutnya, Jika perjudian dapat meningkatkan taraf dan perekonomian Kota Batam serta berdampak positif bagi masyarakat luas, kenapa tidak?.. Selama ini, para pengamat hanya bisa berbicara saja, tanpa memikirkan bagaimana meningkatkan ekonomi Kota Batam. Harusnya, pengamat tersebut memperbanyak jalan-jalan ke Negri sebrang. Seperti, Singapura dan Malaysia. Sebab, mungkin sudah banyak yang mengetahui, salah satu bagian devisa terbesar negri sebrang adalah perjudian. Dan mereka melakukan sendiri dengan mekanisme dan sistemnya. Tanpa bergesekan pada masyarakat yang tidak berkepentingan melaksanakan perjudian. Dan pada kenyataanya, perekonomian negara Singapura dan Malaysia cukup maju bukan?.. Jelas Izal dini hari tadi. (DK)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *