Manajemen Skill Perlu Dimiliki Oleh Anggota BEM dan DPM

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 1167051 kali.


JAKARTA, (DK) – Sebagai mahasiswa yang memiliki posisi penting di lingkungan perkuliahan, Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) diharapkan bisa memperdalam softskill mereka. Karena posisi ini memiliki manfaat yang besar untuk bisa menggali softskill yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas. Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Bambang Cipto., MA berharap para anggota yang menjabat sebagai BEM dan DPM ini bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

“Kalian punya posisi yang sangat penting. Menjadi dewan perwakilan mahasiswa merupakan hal yang luar biasa, dan menjadi modal untuk menambah skill. Dan tolong posisi sebagai perwakilan mahasiswa ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Amanah yang diberikan ini harus digenggam dengan kuat. Adanya softskill selama menjabat, merupakan suatu manajemen skill yang belum tentu dimiliki oleh setiap mahasiswa,” ungkapnya seperti dilansir dari laman UMY, Senin (5/9/2016).

Salah satu cara untuk mengasah softskill tersebut adalah dengan amanah dalam menjalankan tugas yang sudah dipercayakannya tersebut. “Saya yakin menjadi anggota elit mahasiswa itu besar manfaatnya. Anda beruntung mendapatkan itu, karena akan memimpin 10 ribu mahasiswa. Maka dari itu, untuk memimpin harus tegas dan terhormat,” imbuhnya.

Selain itu, Wakil Rektor III, Sri Atmaja P Rosyidi, ST, MSc.Eng, PhD juga menjelaskan jika menjadi aktivis di kampus akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi mahasiswa tersebut.

“Terlebih mahasiswa juga akan terbiasa menghadapi berbagai sifat manusia dan akan terlatih untuk berbicara di depan banyak orang,” ujarnya. Sri memaparkan bahwa dalam berorganisasi terdapat tiga slogan yang menjadi kunci sukses dalam menjalani organisasi, yakni kerja keras, kerjasama, serta kerja ikhlas. “Hal utama dalam organisasi yaitu kerja keras.

Tanggungjawab kita adalah bertindak yang terbaik, bukan memikirkan hasil akhir. Hasil akhir Allah yang menentukan, bukan kita. Penyakit mahasiswa kebanyakan adalah kurangnya bekerja secara totalitas, sehingga pekerjaan tidak bisa optimal,” paparnya.

Sri menambahkan bila dalam organisasi dibutuhkan kerjasama yang solid antar anggota. Dengan begitu, organisasi yang dijalankannya bisa berjalan dengan lancar.

“bekerjasama dalam satu team tentunya dihadapi berbagai macam background yang berbeda-beda. Komunikasi yang efektif, santun, serta menggunakan pola pikir dan strategi dalam berdialog sangat diperlukan. Selain itu juga hal yang sangat penting yaitu kerja iklhas. Apa yang dilakukan harus semata-mata untuk tujuan kebaikan. Bekerja semata-mata hanya untuk Allah. Hanya dengan ikhlas akan mendatangkan spirit yang luar biasa,” tutupnya. (afr/Okezone.com/DK)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *