Kumis Nurdin, antara Tanjungkelit dan Tanjungbalai

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 360 kali.


Delta Kepri – Berbaur dengan masyarakat dalam kondisi apapun hal yang biasa bagi Gubernur H Nurdin Basirun. Kebiasaan itu bukan bermula saat ini saja, tapi sudah berlangsung lama dan menjadi langgam aktivitasnya.

Jika sesekali tampak orang nomor satu Provinsi Kepri ini berada di dapur masyarakat di pulau-pulau, itu semacam rutinitas kalau di berkunjung. Menggiling cabe, memotong bawang, membelah kayu bakar, mengangkut air, mengukur kelapa dan lainnya sering dilakukan.

Kadang juga ikut memakal kapal, memasukkan es-es saat nelayan hendak melaut. Atau seketika ikut mendayung dalam suatu titik kunjungan adalah hal yang tidak canggung dilakukannya.

Dalam banyak kesempatan, dia selalu duduk di kedai kopi dengan kalangan mana pun. Jika di masjid-masjid sudah menjadi semacam rutinitas dia menyerap aspirasi masyarakat. Atau pada beberapa acara keagamaan.

Karena, menurut Nurdin, dengan cara-cara informal itulah masyarakat kadang lepas menyampaikan apa yang mereka harapkan. Apa-apa yang mereka butuhkan sehingga menunjang aktivitas keekonomian masyarakat.

Seketika itu juga kadang diputuskan permintaan apa yang bisa diselesaikan. Beberapa diantaranya dibahas dalam rapat rutin tiap Senin sehingga bisa disejalankan apa yang bisa diberikan.

“Kalau formal formal, mereka kadang tak lepas menyampaikannya,” kata Nurdin suatu kali.

Sikap informal ini malah sudah dihafal betul beberapa kelompok masyarakat. Terutama kaum ibu. Di Karimun misalnya, kalau ada kunjungan kerja, Nurdin selalu menyusuri ruas-ruas jalan hingga ke pelosok.

Pekan lalu, misalnya, saat peresmian pembangunan jalan, Nurdin mendapat sentuhan keakraban dari ibu-ibu.

Nurdin memang biasa berhenti jika melihat kelompok ibu berjalan dalam rombongan. Apalagi yang pulang kerja atau mau bekerja, terutama di sektor informal.

Saat itu, Nurdin menyusuri kawasan Parit Rampak Karimun. Sebanyak lima ibu ibu dengan sejumlah peralatan seperti sabit parang dan lainnya sedang menyusuri jalan.

Tak lama Nurdin berhenti. Turun dari mobil dan menyapa.

“Eh, Nordin, dah lama na tak jumpa,” kata seorang ibu dalam logat Melayu.

Tak ada awalan Pak Nurdin atau Pak Gubernur. Ibu-ibu itu tampak sangat mengenal Nurdin.

Berdiri sekitar lima menit, di antara perbualan itu terdengar tawa yang pecah.

Tiba-tiba seorang ibu memelintir kumis Nurdin.

Semua yang sedang di lokasi tertawa pecah. Demikian juga Nurdin.

Soal kumis, memang menarik perhatian ramai kalangan. Kalau di Tanjungbalai kumisnya dipelintir, di Tanjungkelit Kabupaten Lingga, seorang ibu setiap kali Nurdin berkunjung selalu berpesan soal kumis.

“Pak Gubernur kumisnya jangan dicukur. Nanti tak sedap makan ikan tamban,” kata seorang ibu saat Nurdin berkunjung ke Tanjungkelit.

Agaknya, bagi Nurdin aktivitas semacam itu mampu menyegarkan semangatnya untuk terus membuat Kepri semakin maju. Berpacu meningkatkan investasi, berharap regulasi yang mendukung pembangunan, memacu infrastruktur terus dilakukan.

Akhir Februari lalu mendapat restu Presiden Jokowi agar tujuh proyek strategis cepat berjalan. Proyek-proyek itu adalah Pembangunan Jembatan Batam Bintan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh, KEK Galang Batang, KEK Pulau Asam, Pengembangan Pelabuhan Batu Ampar, Pengembangan dan Modernisasi Bandara Hang Nadim dan Pembangunan Batam LRT (Light Rapit Transit).

Bagi Nurdin ke Jakarta selalu dalam upaya mempercepat investasi dan mendapat regulasi-regulasi yang mendukung. Semuanya untuk memacu pembangunan.

Ke pulau-pulau, selalu memperkuat silaturahmi, walaupun kumisnya dipelintir ibu-ibu.(DK/HMS)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *