Kisah Napi Hingga Kafe Bergaya Penjara di Kota Tua

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 34 kali.


DELTAKEPRI.CO.ID – Berkunjung ke Kota Tua kini tak melulu hanya museum. Banyak tempat nongkrong seru dengan konsep tak biasa. Salah satunya adalah Kafe Join X Jeera yang berdesain mirip penjara dengan terali besar. Tak hanya tampilannya yang menarik perhatian, cerita para pekerjanya juga tak kalah mengundang penasaran karena mereka kebanyakan berstatus narapidana.

Kafe tersebut beralamat di Jalan Pos Kota No.1. Lokasinya tak jauh dari Museum Keramik di kawasan Kota Tua. Meski dari luar terkesan menyeramkan, isi di dalamnya justru dipenuhi para penikmat kopi untuk sekadar bersantai atau berbincang hal yang serius.

Kafe itu sudah berdiri selama tiga tahun. Selain menjual kopi, kafe juga menjadi wadah para narapidana maupun mantan narapidana mengembangkan diri dan mempraktikkan ilmu yang didapat dari dalam lapas.

Nama Jeera yang digunakan memiliki arti kapok atau tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, sedangkan ‘X’ yang dimaksud adalah para narapidana yang bekerja di kafe ini. Lantaran pendirian kafe ini bekerja sama dengan Kafe Join yang berada di kawasan Kemang dan sama-sama bergerak di bidang sosial, jadilah kafe tersebut dinamai Join X Jeera Coffe House.

Salah satu karyawan Join X Jeera, Ahmad mengaku sudah dua tahun menjalani profesi sebagai barista di kafe tersebut. Meski masih berstatus narapidana, ia diizinkan bekerja di luar hingga menjelang masa hukumannya berakhir dua tahun lagi.

“Saya sudah dua tahun bekerja di sini, status saya masih sebagai narapidana namun mendapatkan keringanan dengan jaminan orang tua. Selama masa hukuman berjalan, saya harus wajib lapor tiga bulan sekali,” ujar Ahmad kepada Liputan6.com, Selasa (2/7/2019).

Ia mengaku belajar keterampilan membuat kopi dari dalam lapas lantaran memiliki ketertarikan mendalam soal itu. Selain Ahmad, ada dua rekannya yang lain juga berstatus narapidana. Mereka sama-sama bekerja sebagai barista di kafe tersebut.

Kafe Join X Jeera buka setiap hari dari pukul 08.00–18.00 WIB. Kafe itu sengaja dijadikan tempat untuk pelatihan para narapidana lantaran mereka sering kesulitan mencari pekerjaan karena status mantan narapidana. “Perusahaan-perusahaan udah pasti tutup mata makanya mereka kita diberikan skill untuk keahlian,” ujarnya.

Para pekerja di kafe ini juga dilatih agar dapat berkomunikasi dengan baik agar persepsi negatif yang menempel pada mereka bisa luntur.. Dengan begitu, para pekerja bisa berbaur dengan pengunjung yang datang.

Selain melatih para narapidana, kafe ini juga membuka pelatihan membuat kopi kepada para pengunjung. Mereka sebelumnya memilih kopi yang hendak dicicipi, selanjutnya akan dibantu cara penyajian yang benar oleh para barista.

Di kafe penjara ini terdapat kopi yang menjadi andalan para penikmat kopi, yaitu Kopi Paradise. Dari namanya saja sudah terbayang citarasa kopi layaknya di surga.

Kopi ini disajikan dengan susu dan karamel yang membuat rasanya lebih lezat. Harga kopi paradise dibanderol Rp30 ribu. Sementara, harga kopi di kafe tersebut antara Rp10 ribu sampai Rp 30 ribu.

sumber : liputan6




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *