Jomblo membludak, tingkat seks di Jepang menurun

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 1326 kali.


DELTAKEPRI.CO.ID, TANJUNGPINANG – Pemerintah Jepang memaparkan sekitar seperempat dari orang dewasa Jepang yang berusia antara 20 hingga 49 tahun, ternyata betah berstatus lajang alias tidak menikah.

Masalah ekonomi hingga masalah sosial, seperti banyaknya orang dewasa yang masih tinggal dengan orang tua mereka dan banyaknya wanita yang mengutamakan materi dari calon pasangannya, menjadi penyebab.

Ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah negeri sakura, mengingat saat ini populasi Jepang semakin menipis.

“Mereka pikir memiliki hubungan dengan seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka buang-buang waktu dan mereka lebih memilih menunggu yang lebih baik,” kata Profesor Sosiologi Universitas Chuo Tokyo Masahiro Yamada kepada AFP, dikutip Cnbc Indonesia, Sabtu (7/12/2019).

Alasan lainnya dari banyaknya tingkat orang lajang di Jepang adalah tingginya waktu kerja mereka, kata Yamada. Dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, Jepang terus berupaya membangun kembali ekonominya.

Upaya ini sebagian besar dilakukan melalui perusahaan besar yang menawarkan pekerjaan berdedikasi tinggi pada pekerja, yaitu pekerjaan seumur hidup.

Lebih lanjut, alasan lainnya yang membuat angka orang dewasa lajang begitu tinggi di Jepang adalah masalah rendahnya pendapatan, sebagaimana diungkapkan pimpinan sebuah serikat pekerja, Shuchiro Sekine.

“Wanita Jepang cenderung mencari pria dengan pekerjaan yang stabil dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari mereka,” tambah Shigeki Matsuda, profesor sosiologi di Chukyo University di Jepang tengah.

“Tingkat pendapatan yang lebih rendah dan peningkatan jumlah pekerjaan yang sangat tidak stabil, dengan rasa takut dipecat kapan saja, tidak membuat orang memikirkan tentang menikah dan memiliki keluarga.”

Sebelumnya beberapa waktu lalu, Peter Ueda, seorang peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, mengatakan bahwa ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat tingkat seks menurun di Jepang. Yang mana pada akhirnya menurunkan angka kelahiran di negara ini.

Oleh karenanya, peneliti kesehatan masyarakat dan pakar demografi di negara itu memproyeksikan bahwa apabila berbagai faktor itu terus berlanjut selama 100 tahun ke depan, maka populasi Jepang dapat berkurang setengahnya.

Akibat rendahnya angka kelahiran, komposisi penduduk usia muda dan tua pun menjadi tidak seimbang. Hal ini telah membuat Jepang banyak ‘mengimpor’ tenaga kerja dari luar negeri. Seperti halnya yang terjadi di sektor manufaktur.

Menurut sebuah survei pemerintah, yang dikutip Asia Nikkei, tenaga kerja manufaktur Jepang telah menyusut 9% dari 11,7 juta menjadi 10,6 juta antara 2008 hingga 2018.

Sementara jumlah pekerja di atas usia 65 tahun dalam sektor manufaktur telah naik dari 6,5% pada 2008 menjadi 8,9% pada 2018. Sementara itu, jumlah kelompok pekerja usia kurang dari 35 turun 29% menjadi 25,1% pada kurun waktu yang sama.

Hal ini pun berdampak pada semakin panjangnya waktu pensiun seorang pekerja di Jepang. Saat ini 79,3% dari perusahaan dan 88,7% dari produsen di negara itu menetapkan batas pensiun di usia 60 tahun, menurut survei Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan tahun 2017.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *