Inilah Komentar Pembalap Liar dan Kanit SPK Tanjungpinang

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 2467 kali.


Delta Kepri – Balap liar yang telah melekat sebagai penyakit rutinitas para pembalap liar di Jalan Basuki Rahmat Kota Tanjungpinang. Seakan tidak menimbulkan efek jera yang manjur untuk menghentikannya. Dimana, sedari dulu telah cukup banyak dilakukan pengamanan dan tindakan oleh pihak Polres Tanjungpinang. Minggu, (29/05).

Saat dihimpun Deltakepri.co.id, Marquez (nama samaran) salah seorang remaja yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA) mengakui, lebih baik bermain balap ketimbang hanya menonton saja. Dan menurutnya, kepolisian sejauh ini hanya bisa mengusir. Dan itu-pun dalam sekali putaran saja. Kemudian, biasanya pihak Polisi tidak akan kembali lagi untuk memantau perkembangan balap liar yang kembali beraksi.

“Iya bang seru aja bang, saya kalau nonton jantung saya deg-deggan bang, makanya saya lebih memilih ikutan balap liar. Agar gak deg-deggan bang, habisan polisinya hanya ngusir aja bang. Itupun cuman sekali putar, terus tidak ada nimbul lagi, ya kami lanjut lagilah bang. Semua itu, dengan dasar kekompakan kami,” ujar Marquez.

Hal yang hampir serupa-pun diakui oleh Kepala Unit SPKT Kepolisian Resor (Polres) Tanjungpinang, Ipda Jalaludin. Ia mengungkapkan, para pembalap liar susah diberitahu dan tidak mengerti. Artinya susah diatur.

“Mereka susah dikasih tau, degil-degil semua pembalap liar tu, sudah dibubarkan nanti datang lagi balap-balap,” Kesal Jalaludin.

Menurut Jalaludin, Setiap malam minggu, pembubaran balap liar adalah piket rutin yang sering dilaksanakan dan hal tersebut merupakan tanggungjawab pihak Polres Tanjungpinang.

“Ini hanya piket rutin biasa, kita aja tidak turun personil banyak, ya tentu ini kewajiban saya dalam piket ini,” katanya.

Jalaludin juga mengatakan, bila para pembalap liar tertangkap. pihak Polres pastinya selalu memberi sanksi. Antara lain, melepas baju dan celana mereka. Kemudian dilanjutkan jalan sampai ke-Mapolres Tanjung Pinang dan kemudian ditambah dengan laporan terhadap orang tua pembalap liar masing-masing.

“Kalau ketangkap dengan kita, kita sering suruh push-up dan buka baju dan celana berjalan sampai polres, biar jera, kita bawa kekantor lalu kita panggil orangtuanya,” tutup Jalaludin. (Oppy)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *