Dusun Pengekspor Delah di Lingga, Ternyata Penghasil Dollar

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 2930 kali.


DELTAKEPRI.CO.ID, LINGGA – Siapa sangka sebuah kampung di Desa Rejai, Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau tepatnya di Dusun Buyu penghasilan masyarakatnya ditopang dari penjualan ikan Delah dengan hitungan Dollar Singapura (SGD).

Bayangkan saja, ikan Delah ini apabila diekspor akan dihargai 5 SGD perkilo. Jika di kurs ke dalam mata uang rupiah, lebih kurang hasil yang didapat sebesar Rp50 ribu.

Penghasilan yang lumayan bukan bagi seorang nelayan. Tapi jangan salah, ikan Delah yang dihargai dengan Dollar ini terlebih dahulu harus diolah menyesuaikan permintaan konsumen di negara tersebut.

Daging hasil olah ikan Delah yang dihargai 5 SGD.

Caranya pengelolaanya pun cukup mudah. Pertama tama tubuh ikan harus dibelah terlebih dahulu agar menjadi dua bagian. Pembelahan tubuh ikan harus mengikuti struktur kerangka tulang pungung hingga ke ekor.

Tujuannya, agar pengelolaan lanjutan untuk memisahkan daging dengan bagian kulit ikan dapat dilakukan dengan mudah. Tak butuh lama, pembelahan lanjutan daging dan kulit cukup singkat, hanya butuh hitungan menit bagi yang awam.

Setelah proses semua ini dilalui, maka daging ikan Delah telah siap untuk diekspor. “Perkilonya lima dollar,” kata Agustianto, pengusaha ikan yang keseharian juga berprofesi sebagai nelayan di dusun tersebut.

Tidak hanya itu, bahkan masih menurut pria yang dikenal dengan sebutan Ayong ini, ikan Delah yang diolah tersebut ternyata masih ada bagian yang dihargai 2 SGD atau setara Rp20 ribu, yaitu daging ikan yang masih menempel dibagian tulang.

Daging olahan ikan Delah yang masih menempel di tulang ikan seharga 2 SGD.

Menurut dia, selain pengolahannya tidak ribet, alat yang digunakan juga cukup sederhana, hanya menggunkan sebilah pisau ukuran kecil dan sebuah sendok makan. Maka ikan Delah siap eskpor.

Walaupun Delah, ikan olahan yang bakal digunakan sebagai bahan tambahan berbagai jenis makanan seperti bakso, kerupuk maupun makanan ala Jepang masih diekspor.

Namun Ayong sempat mengatakan bahwa permintaan eskpor saat ini mulai menurun drastis tidak seperti kemarin, sekali ekspor ratusan kilo. “Sekarang pun macet juga, gara-gara virus corona,” tandasnya.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *