Anggota DPRD Natuna ini menilai tidak ada kaitannya pengembangan wisata dengan mahalnya tiket Pesawat

Artikel ini sudah dibaca sebanyak 619 kali.


Delta Kepri – Minimnya kunjungan wisatawan ke Natuna bukan karena mahalnya harga tiket pesawat. Akan tetapi lambatnya pengembangan kawasan wisata dan tidak tersedianya fasilitas pendukung seperti, penginapan khusus, permainan air, arena parkir, pusat jajanan, WC, dan transportasi khusus yang membawa wisatawan menuju lokasi.

“Pengaruh pengembangan wisata dengan mahalnya harga tiket saya justru berpikir terbalik. Karena ada banyak tempat wisatanya bisa maju, harga tiketnya tidak murah, apalagi yang berada diluar negeri “ sebut Marzuki Anggota DPRD Kabupaten Natuna Provinsi Kepri Fraksi Gernas.

Marzuki mengatakan persoalan hari ini bukan pada harga tiket yang terbilang mahal, tetapi bagaimana dinas terkait mampu menciptakan daya tarik sehingga wisatawan tergerak hatinya berkunjung ke Natuna.

“Artinya hari ini yang paling penting dan sangat perlu adalah bagaimana wisata Natuna ada daya tariknya. Jadi bukan masaalah harga tiket yang mahal. Kalau memang wisatawan tertarik ingin berlibur, mereka pandang apa sih harga tiket itu. Tidak perlu jauh-jauh, contoh orang masuk Lagoi saja berapa besar biaya. Tetapi kenapa mereka tetap datang, artinya kita lengkapi dulu fasilitas yang ada di objek wisata itu, “ ujar Marzuki.

Secara pribadi, Marzuki mengakui tingkat promosi wisata Natuna sudah sangat luar biasa. Dengan promosi yang bagus membuat orang tertarik untuk datang. Sayangnya upaya yang dilakukan oleh dinas terkait masih belum sempurna.

“Kita lihat promosi sudah luar biasa bahkan ada even wisata yang sudah dan akan dibuat. Promosi bagus itu membuat orang tertarik untuk datang, tetapi setelah mereka datang yang lahir adalah kekecewaan. Mengapa demikian, karena tidak sesuai dengan yang di promosikan. Buktinya fasilitas yang ada tidak disediakan, insfrastruktur dasarnya tidak mendukung. Awalnya, mereka lihat pantainya bagus, sekali mereka datang mobilnya susah, permainan air tidak ada, penginapan atau hotel tidak ada, kuliner jualan tidak ditata rapi, tempat parkir dimana, kamar mandi dan WC susah dicari,“ ucapnya.

Terlepas dari persoalan itu, Marzuki melihat lima sektor pembangunan yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat juga perlu dipertanyakan. Sebab, hanya satu sektor yang telihat benar-benar berjalan.

Padahal salah satu dari lima pilar itu, adalah pengembangan sektor pariwisata dan sektor pertahanan sudah jalan. Tapi sektor lainnya dimana.

“Saya berpikir memang tidak cukup kalau hanya melewati stakeholder untuk dapat membangun wisata ini. Sudah belasan tahun kita menjadi kabupaten, satupun investasi swasta tidak ada yang masuk kesektor pariwisata. Artinya kita tidak mampu meyakinkan mereka. Padahal faktor alamnya sudah mendukung, cuma tidak di poles saja,” tukasnya.

Menyikapi harga tiket pesawat yang disebut oleh banyak kalangan terlalu mahal. Wakil rakyat pembawa suara hati masyarakat enam kecamatan itu, berpendapat sudah berada diambang batas sebagaimana ketetapan berlaku.

“Sebenarnya harga tiket itu diambang batas yang sudah ditetapkan ada level bawah, ada level atas. Ada UU yang mengatur. Dalam hal ini, maskapai tidak menyalahi ketentuan.

“Kalau mereka menyalahi aturan itu, tentu bisa diberi peringatan. Persoalan hari ini adalah persaingan, artinya berlaku hukum pasar. Ketika hanya dua maskapai ini yang bergerak dengan sendirinya mereka bisa memainkan harga tersebut. Tergantung mereka ingin menggunakan harga level atas, menengah atau seperti apa, karena mereka juga berbisnis. Mereka tahu persis kapan orang akan ramai berangkat, dan harganya tetap mahal “ terangnya.

Menurut Marzuki, Perbedaan harga kerap terjadi, dan tidak bertahan dengan satu level tertentu.

“Contoh pada bulan Januari-Februari, saya melihat harga berbeda, ada yang Rp. 1 juta, ada juga Rp. 900 ribu. Artinya mereka sangat paham hukum pasar dimaksud. Lalu bagaimana cara menurunkan harga tiket, kalau di subsidikan tidak mungkin, bisa membengka APBD kita. Satu-satunya jalan adalah peningkatan ekonomi masyarakat. Artinya mereka ke Natuna ada tujuan tertentu. Singkat cerita, tidak banyak yang berkunjung ke Natuna, belum ramai penumpang, dan membuat harga tiket akan tetap terus mahal,“ cetusnya.

Marzuki juga menyebutkan idealnya harga tiket untuk sekali penerbangan apakah Natuna-Tanjungpinang, Natuna-Batam, maupun Natuna-Pontianak pada level 700-800 ribu.

“Perjalanan satu jam, seperti ke Jakarta 1 jam 20 menit bisa di angka 700-800 ribu. Untuk Natuna mungkin bisa di angka seperti itu. Perbedaan harga juga terjadi didaerah lain seperti Batam – Jakarta pada hari libur terkadang harga tiket mencapai Rp 1,7 juta. Padahal di hari biasa hanya berkisar 400-700 ribu saja. Nah, untuk Natuna yang sering berangkat hari ini kalau kita katakan pelat merah sah-sah saja. Kalau masyarakat umum bisa dihutung jari, paling pengusaha yang memang betul-betul sudah mampu,” pungkasnya.

Sebagai wakil rakyat, kata Marzuki,mahalnya harga tiket burung besi tersebut bukan dikarenaka persoalan batas wilayah, tetapi minimnya keluar masuk orang baik dari Natuna maupun luar Natuna.

“Menurut saya persoalan harga tiket ini bukan pada regulasinya. Bukan pula pada persoalan Negara Singapore yang memiliki batas wilayah. Tetapi dikarenakan kurangnya kunjungan orang dari luar, dan kurangnya orang Natuna berkunjung keluar. Sehingga berlaku hukum pasar, dimana semakin sedikit penerbangan, ketika permintaan banyak, tentu harga akan menjadi naik. Cuma hari ini kita belum pernah mencobanya. Kita tentu memerlukan data seberapa sering, dan seberapa banyak arus keluar masuk orang,” katanya.

Sebelum mengakhiri, Marzuki berharap, dengan berkembangnya sektor pariwisata akan memancing banyak orang untuk berkunjung ke Natuna.

“Secara otomatis setelah ramai pengunjung ke Natuna, tentu akan membuat perekonomian masyarakat jadi meningkat. Kuatnya ekonomi masyarakat, akan mengundang masuknya maskapai lain. Ketika maskapai itu banyak otomatis persaingan harga tiket juga akan terjadi. Kemudian kita bisa memilih ingin berangkat menggunakan maskapai yang mana. Tetapi seandainya itu tidak terjadi, dan tetap bertahan dengan dua maskapai, harga tiket akan tetap menjadi dilema “ tutup Marzuki. (Amran)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *